Monday, 5 October 2009

Perayaan Maulid Nabi dalam Sorotan

Penulis: Al Ustadz Ja'far Shalih
Aqidah, 29 Maret 2007,


Hari itu istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam
kedatangan tiga shahabat menanyakan perihal ibadah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sesampainya
mereka disana diceritakanlah kepada mereka seperti apa
ibadah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, selesai
mereka menyimak keterangan para pendamping Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam seolah-olah mereka masih
menganggapnya belum seberapa. Maka berkatalah salah
seorang dari mereka; "Saya akan shalat malam selama-
lamanya". Kata yang kedua; "Kalau saya, saya akan berpuasa
dan tidak berbuka". Yang terakhir menyela; "Dan saya, saya
akan menjauhi wanita-wanita dan tidak akan menikah".

Tidak lama, sampailah kepada beliau laporan ucapan-ucapan
ketiga shahabatnya tadi. Maka beliau pun berkata lantang
dihadapan mereka;
"Kenapa masih ada orang-orang yang
mengatakan ini dan itu, sungguh demi Allah, ketahuilah;
saya adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut
kepada Allah dari pada kalian, tapi saya shalat malam dan
saya juga tidur, saya puasa dan saya juga berbuka dan saya
menikahi wanita-wanita…barangsiapa yang tidak suka dengan
ajaranku maka dia bukan dari golonganku".

Demikianlah makna hadist Anas radiyallahu 'anhu yang
diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dalam Shahihnya. Hadits
ini seolah-olah terus menegur dan mengingatkan kita, bahwa
ada satu hal dari sunnah nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
yang sering kali luput dari pengamatan yaitu yang
dinamakan para ulama dengan sunnah tarkiyyah. Sunnah
Tarkiyyah adalah semua yang tidak pernah dikerjakan oleh
Rasulllah Shallallahu 'Alaihi Wasallam semasa hidupnya,
maka Sunnah bagi kita untuk meninggalkannya.
Karena sunnah ada dua; sunnah fi'liyyah dan sunnah
tarkiyyah. Yang pertama; setiap yang dilakukan oleh
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dimasa hidupnya
adalah sunnah bagi kita untuk melakukannya. Dan yang
kedua; setiap yang tidak dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah sunnah
bagi kita untuk tidak melakukannya.
Diantara contoh sunnah tarkiyah adalah hadist Anas
radiyallahu 'anhu diatas. Karena itu Al Hafidz Ibnu Rajab
berkata; "…adapun hal-hal yang telah disepakati oleh Salaf
untuk ditinggalkan, maka tidak boleh mengamalkannya,
karena mereka meninggalkannya atas dasar ilmu bahwa hal
tersebut tidak disyariatkan".

Di hari-hari ini, di bulan Rabi'ul Awal, umumnya kaum
muslimin merayakan perayaan ritual tahunan yang biasa
dikenal dengan Maulid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
atau Mauludan (di Jogja dikenal dengan perayaan Sekaten,
red). Tidak sedikit harta yang dinafkahkan pada perayaan
ini, sampai-sampai dibeberapa tempat dana yang dihabiskan
untuk mensukseskannya terkadang mencapai puluhan juta.
Tapi harus kita akui bersama, hanya sedikit –dari sekian
besar dana yang dibelanjakan untuk acara ini- yang
manfaatnya kembali kepada kaum muslimin apabila ditinjau
dari perbaikan akhlak dan sikap beragama mereka, kalau
tidak boleh mengatakan; "Tidak ada manfaatnya". Bukti akan
hal ini terlalu banyak untuk disebutkan. Dan setiap kita
cukup sebagai saksi dari gagalnya seremonial tahunan ini
dalam mengangkat moral ummat dan mengembalikan kesadaran
beragama mereka.

Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara
tersebut merupakan ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi
kita sendiri?! Dengannya kita bisa melakukan napak tilas
sejarah kehidupan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?!
Mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam?! Semua ini adalah niatan baik yang melatar
belakangi perayaan tersebut, tapi seperti yang dikatakan
oleh Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu kepada orang-orang yang
didapatinya di masjid Kufah, ketika itu mereka terbagi-
bagi dalam kelompok-kelompok majlis dzikir, majlis memuji
dan mengingat Allah Ta'ala, kata Ibnu Mas'ud radiyallahu
'anhu , "Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan
tapi tidak mendapatkannya". Hal ini karena mereka
melakukan suatu yang tidak pernah dikerjakan Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wasallam semasa hidupnya, ini juga
yang hampir dilakukan oleh tiga orang shahabat nabi dalam
kisah di atas.

Ungkapan kegembiraan yang tepat, yakni napak tilas
kehidupan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan
mempelajari sunnah-sunnah beliau caranya dengan menerapkan
ajarannya dalam kehidupan kita, dengan belajar ilmu agama
diantaranya sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
bukan dengan cara-cara yang baru yang hanya dikenal
setelah berlalunya tiga generasi yang mulia, shahabat,
tabi'in dan tabi'it tabi'in.
Adapun perayaan Maulid ini tidak dikenal di masa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, generasi pertama
ummat ini dan tidak dikenal dalam mazhab yang empat,
Hanafiah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah. Lantas
siapa orang yang menanggung dosa pertama dari bid'ah
maulid ini? Orang yang pertama kali mengadakan perayaan
ini adalah kelompok Fatimiyyun disebut juga Ubaidiyyun
ajaran mereka adalah kebatinan. Adapun perkataan bahwa
yang pertama kali mengadakan perayaan tersebut adalah
seorang raja yang adil yang alim yaitu Raja Mudhofir,
penguasa Ibril adalah pernyataan yang salah. Abu Syamah
menjelaskan bahwa Raja Al Mudhofir (hanya) mengikuti jejak
Asy-Syaikh Umar bin Muhammad Al Mulaa tokoh kebatinan dan
dialah orang yang pertama kali mengadakan perayaan
tersebut.

Kelompok yang membolehkan Maulid Nabi beralasan;

1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan
kegembiraan dengan diutusnya Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam dan hal ini termasuk perkara yang diharuskan
karena Al-Qur’an memerintahkannya sebagaimana yang

terdapat di dalam firman Allah Ta’ala :
"Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah
dengan itu mereka bergembira" (Qs. Yunus; 58).
Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan
rahmat-Nya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wasallam adalah rahmat Allah yang paling agung, Allah Ta’

ala berfirman :
"Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam" (Qs. Al Anbiya'; 107)

Sanggahannya :
Bergembira dengan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
kelahirannya, syariat-syariatnya pada umumnya adalah
wajib. Dan penerapannya di setiap situasi, waktu dan
tempat, bukan pada malam-malam tertentu.
Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk
melegalkan acara Maulid nyata sangat dipaksakan. Karena
para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al
Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya
tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang
dimaksud dengan kata rahmat pada ayat tersebut adalah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, namun yang
dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang
diterangkan dalam ayat sebelumnya.

"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-
penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman". (Qs. Yunus; 57).
Ibnu Katsir menerangkan; "Firman Allah Ta’ala "rahmat dan
petunjuk bagi orang-orang yang beriman" maksudnya dengan
Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa didapatkan dari Allah
Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang
beriman dengan Al-Qur'an dan membenarkannya serta meyakini

kandungannya. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala;
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman" (Qs. Al
Israa'; 82).

2- Syubhat kedua, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

sendiri mengagungkan hari kelahirannya, beliau
mengekspresikan hal itu dengan berpuasa, seperti
diriwayatkan dari Abu Qatadahradiyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya tentang
puasa hari senin, beliau menjawab; "Pada hari itu aku
dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan kepadaku".

Sanggahannya :
Hadist Abu Qatadah radiyallahu 'anha di atas adalah hadits
yang shahih, tapi menjadikannya sebagai dalil bahwa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam merayakan sendiri
kelahirannya, ini yang salah. Kesimpulannya dalilnya

Shahih, pendalilannya salah. Dikarenakan beberapa alasan;
1- Diriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa puasa beliau
Shallallahu 'Alaihi Wasallam di hari Senin, karena amalan
di hari itu diperlihatkan kepada Allah Ta'ala.

2- Kalau ucapan mereka benar, kenapa tidak ada seorang pun
dari shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang
memahami sabda diatas dengan pemahaman demikian. Kemudian
datang orang-orang belakangan yang memahami puasa beliau
di hari Senin sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari
kelahirannya, lalu dari situ mereka mengadakan acara yang
dinamakan Maulid!! Apakah mereka lebih mengetahui
kebenaran dari para shahabat yang mulia?! Dan kebenaran
itu luput dari mereka dan hanya diketahui oleh orang yang
datang belakangan?! Sungguh ajaib logika orang-orang
pintar akhir zaman, hasbunallahu wani'mal wakiil.

3- Syubhat ketiga, perkataan mereka : Perayaan Maulid
memang bid'ah, tapi bid'ah hasanah (baik)."

Sanggahannya :
Cukup dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
"Setiap bid'ah adalah sesat". Dan seperti itu pulalah yang
disampaikan Ibnu Umar radiyallahu 'anhuma kepada orang-
orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau;

"Setiap bid'ah adalah sesat walaupun orang menganggapnya
baik".


Al Imam Malik rahimahullah berkata; "Barangsiapa yang
membuat bid'ah di dalam Islam yang dianggapnya baik, ia
telah menuduh Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam
khianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Ta'ala

berfirman;
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu”. (Qs. Al Maidah; 3), maka
segala sesuatu yang bukan agama dihari itu, bukan pula
agama di hari ini.

Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran,
kenapa Rasululah SAW dan para shahabatnya, tidak pernah
menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?! Kemungkinan
yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua
kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang
mereka perbuat kepada nabinya dengan alasan cinta
kepadanya?!

(Ditulis oleh al Ustadz Ja'far Shalih, judul asli Perayaan

Maulid Nabi dalam Sorotan, dikirim lewat email dari al akh

Nurijas)

0 comments:

Post a Comment